5 Tokoh yang Berperan di Perkoperasian Indonesia

Recent Post

Categories

5 Tokoh yang Berperan di Perkoperasian Indonesia

April 14, 2022
-
By Muhammad Kafi

Seperti yang kita ketahui semua inovasi atau sesuatu hal yang baru pasti ada campur tangan manusia di belakangnya. Contohnya saja jika kita mendengar kata "Teknologi" maka langsung terbersit di pikiran kita sejumlah nama, seperti Marty Cooper, Bill Gates, Tim Berners-Lee, Steve Jobs dan seterusnya. Hal ini juga berlaku pada Koperasi, terdapat beberapa tokoh koperasi yang berperan di Indonesia yang mungkin kalian sudah pernah mendengarnya atau mungkin belum pernah. Artikel ini membahas mengenai tokoh- tokoh yang pernah berjasa di perkoperasian Indonesia.

1. Raden Bei Aria Wirjaatmadja

Sosok beliau dikenal sebagai pelopor pertama gerakan perkoperasian di Indonesia, Bentuk koperasi pada saat itu masih berupa Bank yang dikhususkan untuk pegawai negeri. Raden Bei Aria Wiriatmadja lahir dari pasangan Raden Ngabehi Dipadiwirja (Kepala Demang Prajurit Ayah) dengan anak dari Mas Ngabehi Kertajaya (Surakarta) di Adireja, Pada 1855. ketika berusia 21 tahun beliau sudah bekerja menjadi juru tulis kontrolir Belanda di Banjarnegara, tetapi jabatan ini hanya dipegang selama 2 tahun saja.

Selama perjalanan hidupnya beliau berhasil menjabat sebagai Patih Purwokerto pada tahun 1879, RA Wiraatmadja masih mengemban jabatan ini hingga dirinya pensiun pada tahun 1907. Atas amanah jabatan yang dimiiliki tersebut beliau berkeinginan untuk membuat lembaga yang dapat mengatasi keuangan rakyatnya. Tujuannya tidak lain untuk membantu dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Purwokerto pada saat itu.

Singkat cerita, pada tahun 1894, beliau diundang ke sebuah pesta khitan yang diadakan oleh seorang guru. Pesta tersebut cukup meriah dan dapat dipastikan memakan biaya yang cukup besar mengingat saat itu bayaran seorang guru tidak terlalu besar, beliau penasaran dari mana asal dana untuk mengadakan pesta ini. Setelah diselidiki, beliau mengetahui bahwa sang tuan rumah mengadakan pesta tersebut dengan berhutang kepada rentenir dengan tingkat bunga yang cukup besar.

Berawal dari sini, beliau mendirikan lembaga yang bernama De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden yang memiliki arti "Bank Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi Purwokerto". Suatu lembaga keuangan yang melayani orang-orang berkebangsaan Indonesia (pribumi). Seiring bertambahnya modal, Raden Aria Wirjaatmadja meresmikan Bank Prekreditan Rakyat pertama di Indonesia pada 16 Desember 1895. Tanggal tersebut menjadi tanggal resmi berdirinya BRI. Oleh karena peristiwa inilah RA Wiraatmadja dikenal dengan julukan Bapak Perkreditan Rakyat.

2. Dr. Sutomo

Sosok beliau yang kerap dipanggil dengan Bung Tomo ini dilahirkan di Kampung Blauran, Surabaya pada tahun 1920. Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo, priyayi golongan menengah yang pernah bekerja sebagai pegawai pemerintah, staf perusahaan swasta, asisten kantor pajak, hingga pegawai perusahan ekspor-impor Belanda. 

Singkat cerita setelah mendirikan organisasi Budi Utomo, salah satu fokus Dr. Sutomo adalah ingin mengembangkan lembaga perekonomian seperti koperasi. Pada 1908, Bung Tomo mulai membangun koperasi rumah tangga. Koperasi yang ingin beliau dirikan adalah koperasi konsumsi, khususnya untuk kalangan rumah tangga rakyat jelata. 

Pada 1950-an di Surabaya, Bung Tomo juga beraspirasi untuk membantu kehidupan para tukang becak dengan menginisiasi sebuah perkumpulan koperasi. Dengan uang iuran yang ditarik dari para tukang becak, lantas direncanakan pendirian pabrik sabun yang nantinya akan dikelola sepenuhnya oleh dan untuk tukang becak. Akan tetapi ide pendirian pabrik sabun ini tidak mandek di tengah jalan, tanpa pernah ada pertanggungan-jawaban keuangan. Meski banyak pertentangan, semangat Dr. Sutomo telah tercatat di sejarah perkoperasian Indonesia.

3. Muhammad Hatta

Mohammad Hatta lahir dari pasangan Muhammad Djamil dan Siti Saleha yang berasal dari Minangkabau. Ayahnya merupakan seorang keturunan ulama di Batuhampar, Sumatra Barat dan ibu beliau berasal dari keluarga pedagang di Bukittinggi. Ia lahir dengan nama Muhammad Athar pada tanggal 12 Agustus 1902 yang memiliki arti "harum" dalam bahasa arab.

Selama menjabat menjadi wakil presiden beliau menulis beberapa esai dari buku ekonomi kerakyatan. Selama itu pula beliau mengembangkan koperasi di Indonesia. Bung Hatta dikenal akan komitmennya pada demokrasi. Dengan rasa kepeduliannya terhadap rakyat dan pemerintahan di Indonesia, Hatta membuat gerakan ekonomi kerakyatan lewat koperasi. Menurut Hatta, tujuan Negara adalah memakmurkan rakyat dengan asas kekeluargaan dan bentuk yang paling cocok untuk Indonesia adalah usaha bersama dengan kekeluargaan. Di mana usaha tersebut tidak lain adalah koperasi. 

Salah satu peran beliau adalah sebagai pencetus dasar-dasar koperasi dan pelatih pendidikan kader koperasi. Dalam mengembangkan koperasi Indonesia, Hatta membuat tujuh prinsip operasional internal dan eksternal koperasi seperti partisipasi sukarela dan terbuka, dikendalikan oleh anggota sepenuhnya, koordinasi anggota, otonomi kebebasan, pendidikan, pelatihan, dan informasi, kerjasama antar operasi, serta kepedulian terhadap komunitas. Bung Hatta diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia pada tanggal 17 Juli 1953 di Bandung ketika Kongres Koperasi Kedua berlangsung. Bung Hatta mendapat gelar sebagai Bapak Koperasi berkat perannya dalam memajukan koperasi di Indonesia. Ia banyak memberikan pidato serta menulis berbagai karangan dan buku ilmiah mengenai ekonomi dan koperasi.

Pada tahun 1951 di hari koperasi, Bung Hatta sempat menyampaikan pidato di radio untuk menyambut hari koperasi nasional tersebut. Salah satu buah pikirannya tentang koperasi terdapat di sebuah buku yang berjudul "Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun" yang dirilis pada tahun 1971.

4. Agus Sudono

Sosok Agus Sudono bukanlah sosok pahlawan yang banyak dikenal oleh banyak orang. Namun, bagi para buruh, nama beliau sangat berjasa. Anak pertama dari pasangan R.M. Darmohusodo dan Mujiatun ini lahir pada tanggal 2 Febuari 1933. Ibu nya adalah sosok ibu yang taat beragama, R.A. Mujiatun, berasal dari keluarga pedagang, dan juga warga NU. Sedangkan dari garis keturunan ayahnya, beliau adalah cucu kelima (wareng) dari Pangeran Sambernyowo, pahlawan nasional dan pendiri Dinasti Mangkunegaran. Sedangkan dari garis ibunya beliau merupakan cucu ke empat (canggah) dari Pujangga Ronggowarsito.

Di masa kecilnya Agus kerap kali memperhatikan nasib para pekerja pabrik gula di dekat rumahnya. Menurut beliau, para pekerja pabrik gula itu tidak mempunyai kekuatan untuk memperbaiki penghasilan dan sulit menaikkan tingkat kesejahteraan mereka. Agus Sudono juga dikenal sebagai tokoh buruh yang terkenal sebagai pejuang lintas zaman karena telah membela hak-hak buruh sejak era Orde Lama, Orde Baru, hingga era Reformasi.

Atas dasar perjuangan beliau untuk membela hak-hak buruh tersebut, beliau dikemudian hari menemukan ide untuk membentuk wadah yang kini dikenal dengan istilah “Koperasi Karyawan” atau lebih tepatnya membangun INKOPKAR (Induk Koperasi Karyawan) beliau menjabat sebagai Ketua Umum INKOPKAR dari tahun 1986 hingga tahun 2008. Agus Sudono juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum Federasi Buruh Seluruh Indonesia (FBSI) dan menjadi anggota Badan Eksekutif Organisasi Buruh Internasional (International Labour Organisation). Sosok beliau yang selalu gigih memperjuangkan eksistensi Kopkar ini ternyata pengagum Bung Hatta sebagai bapak koperasi Indonesia.

5. Prof. Dr. Sri Edi Swasono

Prof. Dr. Sri Edi Swasono lahir di Ngawi, Jawa Timur pada tanggal 16 September 1940 beliau merupakan sosok guru besar ekonomi di Universitas Indonesia dan juga menantu pertama Bung Hatta, Bapak Koperasi Indonesia. Beliau menikahi Meutia Farida Hatta, anak tertua Bung Hatta, tetapi Sri Edi sudah menaruh perhatian pada koperasi jauh sebelum ia menikahi anak dari sosok Bapak Koperasi Indonesia ini. Sri Edi menghabiskan hidupnya untuk menimba ilmu serta untuk memperjuangkan pembangunan koperasi di Indonesia.

Sri-Edi Swasono mengawali latar belakang pendidikan tingginya dengan menjadi siswa SMA Negeri 4 Surakarta lalu menjadi mahasiswa Ekonomi FEUI dan lulus pada tahun 1963. Kemudian melanjutkan studi S2 memperoleh gelar MPIA pada University of Pittsburgh pada tahun 1966. Tidak lama setelah itu, ia menyelesaikan studi S3 dan meraih Ph.D pada universitas yang sama (1969). Selain itu beliau juga adalah Ketua Umum Himpunan Pengembangan Ilmu Koperasi (sejak 1987) dan Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin, sejak 1988).

Baginya, koperasi merupakan manifestasi dari sistem ekonomi kerakyatan, ia juga mengatakan koperasi harus menjadi sokoguru perekonomian. Kesokoguruan itu merupakan konsekuensi logis dari ditetapkannya demokrasi ekonomi sebagai faham perekonomian nasional sejak mulai berlakunya UUD 1945, Sri-Edi giat berusaha memperjuangkan ekonomi kerakyatan dengan koperasi sebagai wujud demokrasi ekonomi. Atas kerja kerasnya tersebut, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar pada tanggal 13 Juli 1988 dengan membawakan pidato pengukuhan yang berjudul ”Demokrasi Ekonomi, Komitmen dan Pembangunan Indonesia”.

menu